Jurnal I.S. Siregar

Karena menulis adalah rindu…

Rembukan Tangkap Taksa: Hidup, kok, spaning amat?

Andre, Ngadyo dan Tondang sadar di pertemuan yang lalu mereka telah melanggar kesepakatan di pertemuan pertama. Rembukan ini semestinya diadakan bakda tarawih, sehabis perut kenyang dan tugas ibadah selesai. Sedang di rembukan yang lalu mereka lakukan di siang hari, dalam keadaan perut lapar dan tengorokan haus. Tapi tak apa, toh rembukan ini bukan Limited Group bentukan Mukti Ali, Dawam Rahardjo, Ahmad Wahib, Djohan Efendi dan kawan-kawan. Wong anggotanya Cuma Andre, Ngadyo dan Tondang. Mahasiswa-mahasiswa yang punya serentetan jadwal panjang untuk revisi tugas akhir.

Ini malam suasananya cerah. Ada Bintang Kejora menggantung di langit gelap. Cahayanya berpendar dengan rembulan. Saling menggoda satu sama lain bagai kekasih menjalin hubungan yang baru berusia tiga hari. Bintang Kejora itu sebenarnya Venus, sebuah planet. Entah bagaimana bisa disebut bintang. Tondang peduli setan soal itu. Ia sibuk mengaduk-ngaduk teh susu yang baru saja dipesan. Sebenarnya Tondang cuma memesan teh. Susu saset putih ditambahkannya di teh panas, susu kental manis itu ia dapatkan boleh gratis dari kunjungan ke kos temannya, itupun didapat secara paksa. Baca entri selengkapnya »

Semacam Refleksi Hari Lahir

9e1683df952580d2580f7bd543c872f5

The Thinker – Fisrt Problem karya Donald Zolan/pinterest.com

Entah kenapa, kita lebih sering lupa dibanding ingat. Pekan pertama Ramadan kali ini usia saya bertambah lagi dan parahnya saya lupa kalau saya lahir di penghujung Mei. Begitulah kehidupan yang kita jalani. Berlalu begitu saja tanpa betul-betul kita sadari. Banalitas keseharian kerap menelan bulat-bulat kesadaran kita tentang Ada. “Inilah lebenswelt, kehidupan yang betul-betul kita tenggelam di dalamnya,” kata Husserl. Filsuf yang untuk menulis saja harus menggunakan stenograf karena pikirannya lebih cepat dibanding gerakan tangannya, ia pada beberapa titik mungkin saja benar. Lebenswelt yang ia maksud itu seperti ini: kita tahu bahwa kita hidup berkelindan dengan waktu, tapi kita tidak betul-betul sadar akan pergerakan waktu itu. Kita percaya saja jam dinding yang bergantung di kamar akan bergerak sebanyak 60 kali dalam satu menit. Dan kita hanya tahu dan percaya. Kita tak pernah benar-benar meneliti, apa iya jam itu berdetak 60 kali dalam satu menit? Bisa saja jam itu mempermainkan kita dengan melompat 3 detik sehingga satu menit menjadi hanya 57 detik. Begitu juga pada hal lainnya, saat kita melangkah ke kantor, melalui kemacetan lalu lintas dan belanja di los-los becek pasar tradisional. Kita menganggap dunia ini statis, tak berkesadaran. Karena itu kita tak peduli-peduli amat. Sebenarnya, dunia itu hidup. Ia memiliki pola-pola. Rotasi dan revolusi bumi memiliki pola sehingga kita yang berdiri di atasnya tak merasa pusing dan berputar-putar. Kehidupan ini adalah subjek tersendiri, sama seperti kita, manusia ini. Ya, inilah lebenswelt, tak dipungkiri saya tenggelam di dalamnya. Baca entri selengkapnya »

Rembukan Tangkap Taksa: Perbedaan Bukan Rahmat

Di minggu pertama bulan puasa ini, Tondang bertingkah tak seperti biasanya. Ia kelihatan lesu dan diselimuti gelisah.  Awalnya Andre dan Ngadyo mengira, perilaku Tondang yang demikian itu disebabkan oleh jatah makannya yang mau tak mau harus dikurangi di bulan puasa ini. Maklum, di hari-hari biasa, Tondang  dikenal sebagai pemuda dengan nafsu makan yang kelewat lebih.

Di bilangan Masjid Kampus UGM, selepas menunaikan salat zuhur, Tondang kedapatan sedang menatap ke arah menara Masjid Kampus yang masih setengah jadi tetapi sudah jadi ajang selfie pemuda-pemudi yang kegandrungan media sosial. Ia duduk melamun di selasar tangga masjid. Di taman yang dipenuhi Palem Putri mengitari masjid itu, ada seekor Jalak Nias sedang mengolok-olok kucing betina belang tiga. Tingkah Jalak itu mencolok karena mengeluarkan suara seperti teriakan menantang berkelahi. Tondang tak ambil peduli atas tingkah ganjil jalak dan kucing itu. Andre dan Ngadyo kemudian menyusul duduk dan menyentuh pundak kiri Tondang. Baca entri selengkapnya »

Rembukan Tangkap Taksa: Prelude

Mula ceritanya begini: Tondang, Ngadyo dan Andre adalah tiga mahasiswa yang kuliah di salah satu kampus di Yogyakarta. Ketiganya berasal dari latar budaya berbeda: Tondang dari Medan, Ngadyo asli Yogyakarta dan Andre anak Jakarta. Tiga pemuda dari tiga suku berbeda ini berkumpul karena memiliki satu kesamaan, yaitu sama-sama bergulat dengan tugas akhir. Mereka saat ini duduk di penghujung tahun-tahun terakhir di kampus tercinta. Karena tugas akhir yang menuntut keruwetan berpikir dan jadwal konsultasi untuk revisi yang tak kunjung berakhir, ketiga mahasiswa itu sepakat untuk mengadakan obrolan-obrolan ringan, sekedar melepas penat. Baca entri selengkapnya »

Kafir(lah)? (Bagian 1)

kafir_infidel_classic_round_sticker-ra8dec0f0a2514ab29ad93687a0351c6d_v9waf_8byvr_324

“Kafir! Kafir! Halal darahnya! Bunuh …!” teriak orang ramai yang sedang unjuk rasa di Jalan Kapas, mengacung telunjuk pada seorang yang ada di depan pintu Gedung Pengadilan Negeri Yogyakarta. Muka mereka merah padam. Upaya untuk mendekati target amarah dihadang oleh berderet aparat keamanan. Beberapa diantara mereka menggenggam senjata tajam, sebagian lain membawa bendera bertulis huruf-huruf dalam bahasa Arab berkibar gagah. Tujuan mereka hanya satu: menghantam orang di seberang jalan yang dari tadi dihujani kata-kata kasar. Suasana kacau. Oknum yang membawa senjata tajam, yang sebagian besar adalah samurai dan golok, mulai bergerak menembus barisan pertahanan aparat. Aksi saling dorong pun tak terelakkan. Tameng-tameng pelindung aparat bergesekan dengan samurai dan golok pendemo, menimbulkan suara gaduh. Seakan sudah tahu pertahanan aparat tidak cukup kuat menahan massa, seseorang yang dari tadi menjadi target amarah lari tunggang langgang menghindari amukan. Baca entri selengkapnya »

Karya Terbaru

 

IMG

Halaman sampul Keluarga Bahagia

Ia tak tahu apakah ada yang baik? Apa pula yang diketahui anak kecil yang kencing saja belum bisa lurus selain bermain? Setahu bocah itu, Zainal adalah ayah yang baik. Semua permintaannya tak pernah tidak dikabulkan. Meninggal saja tentu tak cukup, meninggal juga harus di waktu yang tepat. Untungnya bocah itu masih berusia empat tahun. Jika saja ia memiliki cukup kesadaran memahami bahwa ia telah yatim, pastilah ia akan mengelus dada dan bermuram durja. Namun anak itu masih belum mampu membedakan antara khayalan dan kenyataan. Kalau saja ia tahu pagi itu ada malaikat maut yang menumpangi mobil ayahnya, tentu ia akan menjegalnya.

Matanya berbinar. Tapi ia heran, tak tahu apa yang ada dalam pikirannya? Ia hanya menatap Zainal tak ubahnya sebuah benda mati. Kosong. Semua orang menangis. Aroma kembang setaman memenuhi ruangan. Anak itu hanya diam. Menatap semua dengan keheranan. Mengapa semua orang bersedih?

Ia melihat jenazah ayahnya waktu dimandikan. Di betis kiri hingga paha ada luka menganga lebar. Merah dan amis. Bocah itu menyaksikan dalam kesendirian di jarak sepuluh meter. Semua jelas baginya. Para pelayat yang rata-rata perempuan menyaksikan peristiwa itu dengan tatapan penuh tanya; bagaimana bisa ada anak berusia empat tahun menyaksikan jasad ayahnya dimandikan? Mereka mengutuk siapa yang tak mencegah anak itu berdiri di area pemandian jenazah. Tukang mandi jenazah sialan! Tak banyak yang bisa mereka lakukan. Mereka tak mungkin menjemput anak yang berdiri sepuluh meter dari jenazah ayahnya yang kaku diguyur air. Hanya pelayat lelaki saja yang diperkenankan masuk, itupun terbatas. Masyarakat percaya jika ada perempuan yang menerobos masuk dan melihat jasad pria tanpa busana, suasana duka akan berubah dan musibah bisa jadi menimpa salah seorang dari pelayat.

Anak itu menoleh sejenak pada rombongan pelayat yang meraung di lorong sebelah. Di sana ada sosok bayangan sedang menenteng tas sutra berselempang emas. Duduk di sudut ruangan. Diantara ia dan perempuan-perempuan yang diselimuti duka, ada terali besi yang terkunci rapat. Karena heran melihat sosok aneh di sudut ruangan di balik terali besi, ia pun mendekat. Jari-jari mungilnya menyentuh terali besi yang mulai berkarat. Menempelkan muka di celah-celahnya. Dingin. Ia merasa pintu pembatas itu lebih dingin dari biasanya. Ia amati sosok bergaun putih yang duduk di sudut ruang. Tercium aroma mawar yang harum semerbak. Bocah ingusan itu memperhatikan lama. Hingga sosok itu menoleh. Tersenyum.

Ketika jenazah Zainal selesai dikafani, anak kecil yang terdiam di dekat pintu itu diminta mencium ayahnya untuk terakhir kali. Baru saja ia mendekat, aroma kapur barus langsung menyergap hidung dan menghentikan langkahnya. Dengan keluguan anak-anak, ia berkata, “Tidak mau cium bapak … Bau!”

***

Baca entri selengkapnya »

Kantata Kopi: Kidung Perlawanan Penikmat Kopi

haussmannbach395wideJohann Sebastian Bach. Sumber: http://www.baroquemusic.org

Jauh setelah legenda Khalid yang takjub melihat tingkah kambing-kambingnya sesudah mengunyah biji ajaib di pedalaman Abbyssinia, Etiopia kuno. Seperti Khalid, orang-orang Eropa heran dengan apa yang membuat daya tahan tentara-tentara Arab begitu tangguh. Kemudian mereka paham, kopi adalah jawabannya. Paus Klemens VIII bahkan berseru setelah mencecap kopi beberapa seruput, “mengapa minuman iblis ini begitu nikmat?” senyum licik mulai tampak di wajah tuanya, “kalau begitu, sayang sekali jika membiarkan para kafir itu menikmatinya secara eksklusif. Kita harus membodohi iblis dengan membaptis dan menjadikan kopi sebagai minuman umat Kristiani.” Dan tersebarlah kopi dengan efek magisnya ke seluruh penjuru Eropa.

Dalam Uncommon Grounds: The History of Coffee and How It Transformed Our World, Mark Pendergrast menulis dengan singkat, kopi tiba di Jerman sekitar 1670-an. Tahun 1721 menjadi tonggak tren minum kopi dikuti bertebarannya warung-warung kopi di Jerman, seperti bekicot pada musim hujan. Kendati kopi menjadi topik seksi untuk diperdebatkan pada masa itu –seperti tembakau saat ini—dengan membayar ahli-ahli kesehatan untuk berkoar-koar tentang kopi yang tidak sehat, masalah kebersihan biji kopi dan efeknya yang dapat membunuh janin, malah kontroversi itu menaikkan derajat kepopuleran kopi. Baca entri selengkapnya »