Jurnal I.S. Siregar

Karena menulis adalah rindu…

Dunia yang Kaya Informasi

apps blur button close up

Photo by Pixabay on Pexels.com

Bayangkan, teman anda mengajukan pertanyaan pada anda. Lalu anda mencoba menjawab pertanyaan itu dengan upaya agar ia mendapat jawaban yang komprehensif. Sebelum anda sampai pada inti jawaban, teman anda tiba-tiba memotong dan mengajukan pertanyaan lain. Jawaban pun anda berikan. Kali ini teman anda tidak memotong dengan pertanyaan lain, tetapi memberikan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Dan anda menyimak sampai tuntas pertanyaan yang menjawab dirinya sendiri itu. Pertanyaan lain yang ke-sekian kalinya pun dilontarkan. Anda, dengan kesabaran Atlas yang tidak pernah lelah menopang bumi, kemudian mencoba merespon. Anda berhasil memberikan pemaparan panjang. Teman anda, tampak diam mendengarkan tetapi matanya kosong. Ia lebih sibuk menggerakkan jari-jemarinya di layar gawai. Cahaya redup terpapar di wajahnya. Anda selesai dengan respon anda. Teman anda terus saja khusyuk dengan benda kecil di genggamannya. Apa yang anda rasakan saat momen-momen seperti itu terjadi menimpa anda? Baca entri selengkapnya »

Iklan

Sajak Kabar Pembunuhan

 

Adalah di kebun sawit di Muara Bulian
Seorang bayi perempuan belum genap usia untuk hadir ke muka bumi
Dicampakkan bersama sebuah kardus mi
Ditemukan mati saat para kuli perkebunan menurunkan buah-buah sawit dari tandan

Ia dipaksa lahir dari rahim perempuan lima belas tahun
Perempuan tanggung yang tak mengerti mesti apa saat kakak kandungnya memaksa untuk buka celana berbulan-bulan silam

Laki-laki delapan belas tahun berjiwa kerupuk itu juga sama tak mengertinya
Atau lebih tolol, bahkan untuk mengendalikan kemaluan sendiri ia tak bisa
Adik sendiri menjadi korban ketololan

Apa yang ada di pikiran ibu dari dua adik-beradik itu?
Ialah berupaya membunuh mahluk hidup dalam perut anak perempuannya sedini mungkin
Ia memijat-mijat
Ia memberi ramuan
Ia yang mengantarkan ke tempat aborsi
Ia yang mencampakkan bakal cucunya di kebun sawit

Kabar jadah ini ketahuan!
Atas nama hukum perempuan tanggung yang juga adalah korban perkosaan divonis
Mendekam beberapa bulan di penjara beralaskan koran memuat berita mengenai dirinya

Laki-laki kerupuk diganjal dua tahun
Hanya dua tahun!
Mengagumkan bagi otak yang tak mampu mengendalikan kemaluan!

Ibu mereka juga turut diperkarakan
Karena cukup banyak turut andil dalam pembunuhan

Lalu malaikat pencatat bingung
Siapakah yang mesti ditulis sebagai pendosa diantara mereka?
Ibu tanggung yang malang karena mengizinkan bayi di kandungannya dibunuh?
Ayah bermental kerupuk yang sama sekali tak pantas disebut laki-laki?
Nenek yang tak ingin bercucu rasa malu?
Atau para hakim yang palunya terdengar amat nyaring hanya ketika menghukumi orang-orang lemah?

Kabar pembunuhan itu tiba ke telinga malaikat maut
Ia ongkang-ongkang di atas awan
Ia telah jadi pengangguran

Papringan, 2018.

Membaca

images (6)

acehotel.com

Kata orang-orang membaca itu penting. Apa iya? Ataukah itu pemanis lidah saja? Masa sih, di abad dengan ruh zaman “serba instan” masih percaya membaca itu penting? Karena mau tak mau, membaca banyak butuh waktu yang tak sedikit. Dari pada membaca, lebih baik cari kesibukan yang ada hasilnya, sana!

Membaca itu penting? Sepenting apa? Kalau memang penting, kok penelitian terbaru mengatakan minat baca rakyat Indoneisa berada di peringkat 60 dari 61 negara yang diteliti. Itu artinya, dalam soal membaca, Indonesia berada diperingkat kedua dari belakang. Tak usah berdebat apa iya sederet angka yang oleh alat-alat statisktik mampu merepresentasikan realita. Jawabannya sudah pasti mustahil! Mana mungkin realita yang rumit berkelit-kelit bisa dikuantifikasi menjadi sederet angka! Tapi, setidaknya penelitian itu bisa menjadi secuil gambaran atau potongan puzzle dari realita.

Betulkah membaca itu penting? Atau jangan-jangan sekedar kata penghias dinding-dinding sekolah saja? Faktanya, masih banyak orang yang mengaggap membaca itu “b aja” aliasa biasa saja, ga penting-peting amat. Sama saja dengan ini, orang-orang bilang mencuri itu ga baik. Faktanya, banyak sekali maling dan koruptor yang tampil di kotak ajaib berwarna.

Membaca itu penting, ya? Tapi kok pelajaran membaca di sekolah-sekolah menjadi pelajaran yang paling membosankan yang pernah ada di muka bumi ini? Yuk, simak kutipan dari tulisan James Mursell dari Columbia University’s Teachers College pada 1939 yang rasa-rasanya masih relevan dengan situasi kini. Judul tulisan Pak Mursell itu berjudul “Kegagalan Sekolah”, berikut beberapa baris kutipannya: “Apakah siswa di sekolah belajar membaca dalam bahsa ibunya secara efektif? Jawabannya iya dan tidak. Sampai kelas 5 dan 6, secara menyeluruh kegiatan membaca diajarkan secara efektif dan diterima dengan baik. Sampai pada tingkat itu, kita mendapati peningkatan signifikan dan merata. Tetapi setelah itu, kurva perkembangan menurun sampai ke titik nol! Ini bukan karena siswa telah mencapai batas efisiensi alamiahnya saat mereka duduk di kelas enam, telah terbukti berkali-kali banyak siswa yang lebih tua, pun orang dewasa, jika diberi latihan khusus, masih bisa mengalami kemajuan yang sangat besar. Hal ini juga bukan berarti bahwa kebanyakan siswa kelas enam sudah mampu membaca cukup baik untuk memenuhi semua kebutuhan praktisnya. Banyak siswa mengalami kesulitan belajar di SMA karena mereka tidak bisa menangkap intisari tulisan. Mereka bisa dan perlu berkembang, tetapi mereka tidak berkembang.

Rata-rata lulusan SMA sudah banyak membaca, lebih-lebih jika mereka melanjutkan studi hingga ke universitas, akan lebih banyak lagi membaca, tetapi tampaknya mereka menjadi pembaca yang tidak kompeten (perlu diingat, hal ini terjadi pada rata-rata siswa!). Mereka bisa membaca fiksi sederhana dan menikmatinya sekaligus. Tetapi membaca eksposisi yang ditulis rapat-rapat, dengan argumen yang cermat dan tidak diulang, atau menghadapi tulisan yang perlu disikapi secara kritis, mereka kebingungan. Telah terbukti bahwa rata-rata siswa SMA kurang mampu menemukan intisati sebuah bacaan, atau menetapkan tingkatan signifikansi argumen-argumen dari sebuah eksposisi. Untuk berbagai kebutuhan praktisnya, mereka, siswa-siswa SMA, masih soerang pembaca kelas 6 SD, bahkan setelah mereka duduk cukup lama di bangku perguruan tinggi.”

Dari dua paragraf kutipan di atas, kian terasa bahwa pernyataan “membaca itu penting” tak betul-betul dipahami. Penting yang bagaimana? Membaca yang seperti apa?

Mortimer J. Adler dan Charles Van Doren, dua filsuf sosial Amerika, menulis How to Read a Book. Dalam buku klasik yang menjadi acuan dalam kampus-kampus liberal arts di Amerika Serikat itu, menerangkan membaca terdiri ragam jenis: membaca dasar; membaca inspeksional; membaca analitis; dan membaca sintopikal. Membaca dasar adalah cara membaca anak SD dengan maksud “apa yang disampaikan kalimat itu”. Membaca inspeksional kurang lebih sama dengan membaca cepat âla seminar-seminar membaca. Membaca analitis ialah membaca untuk mendapat pemahaman, bukan sekedar informasi. Sedangkan membaca sintopikal adalah membaca analitis disertai dengan membandingkan satu buku dengan buku lain di saat yang sama.

Di sekolah, khususnya di Indonesia, selama ini yang diajarkan adalah cara membaca dasar dan inspeksional. Dua cara membaca ini menempatkan pembaca pada posisi pasif, dengan lain kata sebagai pengunyah bacaan, bukan penelaah bacaan.

Penulis yang baik sebenarnya mengharapkan pembacanya berdialog secara aktif. Membaca bukan berarti setuju dengan yang dibaca, juga bukan berarti selalu tidak setuju. Pembaca yang aktif mengeluarkan segala upaya untuk memahami suatu bacaan lalu dengan argumentasi yang objektif menilai bacaan tersebut serta menentukan posisinya sendiri. Intinya, membaca tak sekedar mencari informasi melainkan mendapat pemahaman.

Dalam Kolom Opini Kompas 23 Maret 2004, Ki Supriyoko merumuskan kaitan antara minat baca (reading interest) dengan kebiasaan membaca (reading habit) dan kemampuan membaca (reading ability) yang saling berkelindan. Rendahnya minat baca di masyarakat menjadikan kebiasaan membaca pun rendah. Kebiasaan membaca yang rendah ini pula berdampak pada kemampuan membaca yang minor. Maka, tak heran berita hoax merajalela meracuni orang-orang. Kemampuan membaca tak hanya berkaitan dengan literasi. Membaca permasalahan serta membaca jawabannya juga termasuk dalam kateogori ini. Kemampuan membaca literasi berkaitan erat dengan pemecahan masalah riil di kehidupan.

Selanjutnya, dengan ciamik, Yudi Latif menyimpul gairah baca dengan demokrasi. Dalam Kompas, Sabtu 26 Juli 2008 Yudi Latif megatakan bahwa dunia lisan adalah dunia yang mengarah pada elitisme. Dalam tradisi lisan hanya ada sebagian atau sedikit orang yang memiliki akses terhadap informasi. Ini memberikan privilese khusus kepada sedikit elit yang menjadikannya dominan secara politik. Adapun dunia aksara, termasuk di dalamnya membaca dan menulis, adalah dunia kesetaraan. Penyebaran kemampuan dan bahan literasi mendorong tersebarnya pengetahuan yang kelak akan merobohkan elitisme seraya memperkuat egaliterianisme. Elitisme amat narsistik, mental yang hanya mementingkan diri sendiri dengan menutup jalan partisipasi. Egalitarianisme menjunjung kesederajatan hak dengan menekan dominasi dan membuka jalan selebar-lebarnya bagi partisipasi, inilah ruh demokrasi. Lebih jauh, Yudi Latif menganalisa tantangan budaya literasi Indonesia ke depan. Ada dua ancaman, pertama, vokasionalisme baru (new vocationalism), yaitu konsep pendidikan yang menekankan keterampilan praktis. Dalam konsep ini, dimensi kesastraan dalam pengajaran bahasa diabaikan seraya memberi perhatian lebih pada pengajaran tata bahasa dalam disiplin kejuruan yang spesifik. Akibatnya, orang-orang yang membaca kesastraan dan bergairah intelektual tinggi di cap sebagai elitis, tak membumi dan marjinal. Kedalaman ilmu dihindari, dan kedangkalan praktis dirayakan. Kedua, ancaman yang datang dari multimedia berupa media penyebar informasi. Informasi yang ditawarkan media dangkal dan sekilas, kendati tak semuanya. Mau tak mau, ini akan berdampak pada masyarakat yang lambat laun enggan pada kedalaman makna. Setiap hari masyarakat digembor oleh hal-hal yang permukaan disertai kepercayaan yang begitu saja serta analisis yang cetek. Ini akan menjadi masalah besar pada tata kehidupan di masa depan.

Lalu bagaimana solusinya? Kita bisa mencontoh India dalam hal meperluas bacaan dengan biaya murah. India mencetak berbagai buku teks ke dalam kertas koran. Atau seperti Jepang, dengan menggalakkan penerjemahan jurnal-jurnal ilmiah sehingga penyeberan pengetahuan bisa dirasakan masyarakat luas. Bisa pula meniru Australia dengan membekali para siswa semacam kartu untuk menuliskan judul buku yang dibaca. Catatan hasil baca dan penilaian dibcakan setiap hari sebelum kelas dimulai. Apapun itu, Indonesia harus menjadikan membaca sebagai prioritas dalam pendidikan.

Sebagai penutup, mari dengarkan petuah dari Sir Francis Bacon, filsuf Abad Pertengahan dari Royal Society Kerajaan Inggris: “bacalah bukan untuk menyatakan kontra atau membantah; juga bukan untuk memercayai dan menerima, juga bukan mencari bahan pembicaraan atau wacana; tetapi untuk mengetahui dan menimbang.” Selamat membaca!

Rembukan Tangkap Taksa: Hidup, kok, spaning amat?

Andre, Ngadyo dan Tondang sadar di pertemuan yang lalu mereka telah melanggar kesepakatan di pertemuan pertama. Rembukan ini semestinya diadakan bakda tarawih, sehabis perut kenyang dan tugas ibadah selesai. Sedang di rembukan yang lalu mereka lakukan di siang hari, dalam keadaan perut lapar dan tengorokan haus. Tapi tak apa, toh rembukan ini bukan Limited Group bentukan Mukti Ali, Dawam Rahardjo, Ahmad Wahib, Djohan Efendi dan kawan-kawan. Wong anggotanya Cuma Andre, Ngadyo dan Tondang. Mahasiswa-mahasiswa yang punya serentetan jadwal panjang untuk revisi tugas akhir.

Ini malam suasananya cerah. Ada Bintang Kejora menggantung di langit gelap. Cahayanya berpendar dengan rembulan. Saling menggoda satu sama lain bagai kekasih menjalin hubungan yang baru berusia tiga hari. Bintang Kejora itu sebenarnya Venus, sebuah planet. Entah bagaimana bisa disebut bintang. Tondang peduli setan soal itu. Ia sibuk mengaduk-ngaduk teh susu yang baru saja dipesan. Sebenarnya Tondang cuma memesan teh. Susu saset putih ditambahkannya di teh panas, susu kental manis itu ia dapatkan boleh gratis dari kunjungan ke kos temannya, itupun didapat secara paksa. Baca entri selengkapnya »

Semacam Refleksi Hari Lahir

9e1683df952580d2580f7bd543c872f5

The Thinker – Fisrt Problem karya Donald Zolan/pinterest.com

Entah kenapa, kita lebih sering lupa dibanding ingat. Pekan pertama Ramadan kali ini usia saya bertambah lagi dan parahnya saya lupa kalau saya lahir di penghujung Mei. Begitulah kehidupan yang kita jalani. Berlalu begitu saja tanpa betul-betul kita sadari. Banalitas keseharian kerap menelan bulat-bulat kesadaran kita tentang Ada. “Inilah lebenswelt, kehidupan yang betul-betul kita tenggelam di dalamnya,” kata Husserl. Filsuf yang untuk menulis saja harus menggunakan stenograf karena pikirannya lebih cepat dibanding gerakan tangannya, ia pada beberapa titik mungkin saja benar. Lebenswelt yang ia maksud itu seperti ini: kita tahu bahwa kita hidup berkelindan dengan waktu, tapi kita tidak betul-betul sadar akan pergerakan waktu itu. Kita percaya saja jam dinding yang bergantung di kamar akan bergerak sebanyak 60 kali dalam satu menit. Dan kita hanya tahu dan percaya. Kita tak pernah benar-benar meneliti, apa iya jam itu berdetak 60 kali dalam satu menit? Bisa saja jam itu mempermainkan kita dengan melompat 3 detik sehingga satu menit menjadi hanya 57 detik. Begitu juga pada hal lainnya, saat kita melangkah ke kantor, melalui kemacetan lalu lintas dan belanja di los-los becek pasar tradisional. Kita menganggap dunia ini statis, tak berkesadaran. Karena itu kita tak peduli-peduli amat. Sebenarnya, dunia itu hidup. Ia memiliki pola-pola. Rotasi dan revolusi bumi memiliki pola sehingga kita yang berdiri di atasnya tak merasa pusing dan berputar-putar. Kehidupan ini adalah subjek tersendiri, sama seperti kita, manusia ini. Ya, inilah lebenswelt, tak dipungkiri saya tenggelam di dalamnya. Baca entri selengkapnya »

Rembukan Tangkap Taksa: Perbedaan Bukan Rahmat

Di minggu pertama bulan puasa ini, Tondang bertingkah tak seperti biasanya. Ia kelihatan lesu dan diselimuti gelisah.  Awalnya Andre dan Ngadyo mengira, perilaku Tondang yang demikian itu disebabkan oleh jatah makannya yang mau tak mau harus dikurangi di bulan puasa ini. Maklum, di hari-hari biasa, Tondang  dikenal sebagai pemuda dengan nafsu makan yang kelewat lebih.

Di bilangan Masjid Kampus UGM, selepas menunaikan salat zuhur, Tondang kedapatan sedang menatap ke arah menara Masjid Kampus yang masih setengah jadi tetapi sudah jadi ajang selfie pemuda-pemudi yang kegandrungan media sosial. Ia duduk melamun di selasar tangga masjid. Di taman yang dipenuhi Palem Putri mengitari masjid itu, ada seekor Jalak Nias sedang mengolok-olok kucing betina belang tiga. Tingkah Jalak itu mencolok karena mengeluarkan suara seperti teriakan menantang berkelahi. Tondang tak ambil peduli atas tingkah ganjil jalak dan kucing itu. Andre dan Ngadyo kemudian menyusul duduk dan menyentuh pundak kiri Tondang. Baca entri selengkapnya »

Rembukan Tangkap Taksa: Prelude

Mula ceritanya begini: Tondang, Ngadyo dan Andre adalah tiga mahasiswa yang kuliah di salah satu kampus di Yogyakarta. Ketiganya berasal dari latar budaya berbeda: Tondang dari Medan, Ngadyo asli Yogyakarta dan Andre anak Jakarta. Tiga pemuda dari tiga suku berbeda ini berkumpul karena memiliki satu kesamaan, yaitu sama-sama bergulat dengan tugas akhir. Mereka saat ini duduk di penghujung tahun-tahun terakhir di kampus tercinta. Karena tugas akhir yang menuntut keruwetan berpikir dan jadwal konsultasi untuk revisi yang tak kunjung berakhir, ketiga mahasiswa itu sepakat untuk mengadakan obrolan-obrolan ringan, sekedar melepas penat. Baca entri selengkapnya »